What is Sikerei? Sikerei or Kerei is the shaman of Mentawai Tribe in local language. They are living in the island of Siberut, part of Mentawai Islands, West Sumatra, Indonesia. Many of them still live in very basic lifestyle. As a shaman they cure people with the medicine made by the available plants in the island. Sikerei is not only the medicine man, they are also the guardian of Mentawai culture.
Apa arti Sikerei? Sikerei atau Kerei berarti dukun dalam bahasa Mentawai. Mereka tinggal di pulau Siberut, bagian dari Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Indonesia. Sebagian besar dari mereka masih hidup dengan pola hidup sangat sederhana. Sebagai dukun, mereka bertugas menyembuhkan orang sakit dengan obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sana. Sikerei bukan sekedar dukun, mereka juga penjaga budaya Mentawai.
Currently not more than 200 Sikerei left since their population is rapidly decreased by modernization and globalization. Only few of their children want to continue to be Sikerei. In this photography workshop we will try to replicate their daily life activities into photographic scenes. The workshop will take place in some locations in West Sumatra mainland.
Saat ini tidak lebih dari 200 Sikerei yang tersisa, populasi mereka menurun jauh karena modernisasi dan globalisasi. Hanya beberapa anak mereka yang mau meneruskan tradisi menjadi Sikerei. Dalam workshop fotografi ini, kita akan mereplikasi kegiatan sehari-hari mereka ke dalam adegan-adegan fotografi. Pengambilan foto dalam workshop ini akan dilakukan di daratan Sumatera Barat.
DAY 1: Airport – Harau Valley
All participants are expected to be arrived at the airport in the morning, and go to Harau Valley where we will spend 2 nights and having 3 sessions on various area.
Para peserta diharapkan sudah tiba di bandara pagi hari dan kita akan langsung menuju lembah Harau sebagai lokasi utama. Di sana kita akan menginap selama 2 malam dan memotret berbagai kegiatan outdoor dalam 3 sesi di beberapa lokasi.
In the afternoon we will have 1 outdoor session.
Sore hari kita kan langsung memotret 1 sesi outdoor.


DAY 2: Harau Valley
After breakfast, we will have the second session until 11:00. Here we shoot Mentawai women cathing fish with their traditional tools. We also take photos of Sikerei making a medicine from plant and leaves, group portraits etc.
Setelah sarapan kita akan memulai sesi kedua di lokasi yang tidak begitu jauh dari penginapan. Di sini kita akan memotret wanita Mentawai menangkap ikan dengan jaring tradisionalnya. Kemudian memoret Sikerei meracik obat-obatan dari tumbuhan dan dedaunan. Di sini kita juga memotret potret perseorangan dan kelompok.



After lunch we will have some rest until around 02:00, have another session in different location. Here we can take photos of Mentawai tribe bathing their child. Group portraits etc. After the session in this location is ended you will have the opportunity to shoot the “Pasigoga Simagre” ritual perform by a family in sequence. You will be shooting this ritual in free style because we do not stage this.
Setelah makan saing kita menuju lokasi lain untuk memotret beberapa kegiatan, seperti memandikan anak dll. Di lokasi ini kita juga akan mengambil potret perseorangan dan kelompok. Setelah semua selesai sebelum kita meninggalkan lokasi, para peserta berkesempatan untuk memotret ritual yang dinamakan Pasigoga Simagre. Pemotretan ini dilakukan dengan gaya bebas tanpa diatur.



DAY 3: Harau – Baso – Bukittinggi
After breakfast we will have full day session in our big warehouse, which has been transformed into indoor studio, we will have some scenes to shoot. We take photos of Sikerei do the dance, making tattoo, mother feeding their baby etc.
Kita akan mulai memotret pagi hari setelah sarapan hingga sore, lokasi pemotretan dalam ruangan. Kami menyulap gudang yang lumayan besar untuk jadi tempat pemotretan. Di sini kami juga menyiapkan replika ruang dalam huma Mentawai yangt terbuat dari papan. Kita akan memotret salah satu tari Mentawai yang akan diperagakan oleh Sikerei. Dilanjutkan memotret Sikerei membuat tato dan wanita Mentawai menyusui bayi dan sebagainya.








DAY 4: Bukittinggi – Baso – Batusangkar – Bukittinggi
After breakfast we will shoot traditional plate dance indoor. This is additional session, can be replaced with another conceptual photo depend on situation.
Setelah sarapan kita memotret tari piring. Ini adalah sesi tambahan, bisa saja diganti dengan konsep lain tergantung siatuasi.

After lunch, we go to Batusangkar to shoot Pacu Jawi as a bonus session. Shooting Pacu Jawi always fun. Then if the weather is good, we will stop at Pariangan village to enjoy the sunset on the rice field on the way to go back to Bukittinggi.
Setelah makan siang kita akan menuju Batusangkar untuk memotret Pacu Jawi sebagai sesi tambahan. Jika cuaca bagus, sebelum kembali ke Bukttinggi kita mampir di desa Pariangan menikmati matahari terbenam.

The workshop is ended.
Workshop berakhir.
DAY 5: Bukittinggi – Airport
After breakfast we will drop all participants to the airport.
Setelah sarapan para peserta akan diantar menuju bandara.
- This is an Open Workshop, minimal of 8 participants, but can also requested as private for few participants. Workshop ini terbuka buat siapa saja yang ingin ikut serta dengan minimal 8 peserta. Workshop ini juga bisa diadakan atas permintaan khusus untuk beberapa fotografer.
- Consider the photos on this itinerary as reference. Foto-foto dalam rangkaian acara ini harap dianggap sebagai referensi.
- The Sikerei whom to be invited to the workshop are not necessary the same with the Sikerei in the sample photos. Sikerei yang akan difoto bisa saja berbeda dengan yang ada di foto-foto contoh.
Please contact me for schedule and pricing.
Silakan mengontak saya untuk jadwal dan biaya.