RAW atau JPEG, Format Mana yang Kamu Pilih Waktu Memotret?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik di kalangan fotografer, bahkan sering menjadi bahan perdebatan yang tidak selesai-selesai. Tentu sulit untuk mengatakan mana yang terbaik, karena menurut saya ini ditentukan oleh kegunaan foto tersebut dan juga faktor lain seperti media penyimpanan. Sebelum kamu memutuskan apakah akan menggunakan format RAW atau JPEG mari kita ketahui dahulu apa yang dimaksud dengan kedua istilah tersebut.

RAW
Raw adalah file mentah dari kamera, sering disebut juga dengan istilah Digital Negative. File mentah dari kamera ini mengandung informasi lengkap tentang jumlah warna, rentang dinamis cahaya (Dynamic Range) dan informasi lainnya seperti metadata sebuah foto. Metadata berisikan informasi kamera yang digunakan, info lokasi dll. Berbicara tentang warna saja, file RAW yang 12 bit mengandung 256 rentang warna (total 68 milyar warna). File RAW tidak ada standarisasinya, jadi berbeda untuk setiap pabrikan kamera. Ukuran besar filenya pun tidak sama walau sama dalam besaran Megapixelnya. File foto dalam bentuk RAW tidak bisa dilihat begitu saja tanpa bantuan perangkat lunak tertentu. File RAW perlu dikonversi terlebih dahulu menggunakan perangkat lunak tertentu agar bisa ditampilkan hasil akhirnya (konversi juga bisa dilakukan dengan kamera itu sendiri), yang sebenarnya juga akan berformat JPEG pada umumnya.

JPEG
Kadang-kadang disebut juga JPG, merupakan file hasil kompresi yang sebagian besar informasi tentang warna dan dynamic range sudah dibuang. Informasi penting tersebut hanya dipakai seperlunya untuk ditampilkan. File JPEG bisa dilihat hampir disemua media baik di web browser, telepon genggam dan layar komputer. tidak memerlukan perangkat lunak tambahan untuk melihatnya. File JPEG hanya mengandung 4096 rentang warna (total 16 juta warna) karena hanya maksimal 8 bit saja. Bandingkan jumlah informasi warna dengan file RAW. Karena informasinya sudah dikompresi maka tidak heran besaran filenya juga lebih kurang 25%-30% dari besaran file RAW.

DALAM PRAKTEK
Dengan mengetahui apa itu definisi kedua istilah tersebut, kamu tentu bisa memutuskan format yang mana yang akan dipakai waktu memotret. Beberapa hal berikut perlu kamu jadikan bahan pertimbangan.

  1. RAW membutuhkan media penyimpanan yang lebih besar karena ukuran filenya yang besar, JPEG tidak perlu media penympanan yang besar.
  2. RAW memberikan fleksibilitas tanpa kehilangan detil ketika memproses atau melakukan editing karena mengandung informasi yang lebih banyak. JPEG jelas terbatas.
  3. Jika kamu salah memotret dengan format JPEG, misalkan salah mengatur White Balancenya sehingga fotomu menjadi tidak natural, maka perbaikan yang dilakukan tidak maksimal. Karena sebagian besar informasi sudah dibuang dan dikompres.
  4. JPEG bisa langsung dilihat, sedangkan RAW perlu diproses dahulu.
  5. RAW juga bisa menjadi bukti kepemilikan fotomu jika sewaktu-waktu “dicuri” oleh orang lain.

Jika kamu masih ragu format mana yang akan dipakai, kamera digital zaman sekarang menyediakan pilihan kepadamu untuk memotret dengan format RAW+JPEG. Mungkin ini sebagai jalan tengah karena media penyimpanan berukuran besar harganya sudah tidak mahal lagi. Jika JPEG yang kamu dapat kurang memuaskan maka masih ada RAWnya yang bisa diproses untuk mendapatkan detil yang hilang.