Motret Portraiture Gaya CEO Pakai Fujifilm GFX50S

Biasanya fotografer jarang sekali difoto, termasuk saya sendiri. Kali ini saya memotret seorang sahabat fotografer, Ivansyah, dengan konsep gaya CEO. Sahabat saya ini seorang pehobi fotografi, yang peralatan fotografinya memenuhi ruangan dan serba lengkap. Saya hanya menduga jika Ivansyah adalah juga seorang CEO sebuah perusahaan. Kenapa hanya menduga? Karena saya belum pernah bertanya apa profesi dan jabatannya walau sudah lumayan lama berteman. Bukannya hal itu tidak penting, tetapi hanya karena saya kurang kepo saja.



Kali ini saya memotret menggunakan Fujifilm GFX50S dan lensa FUJINON GF32-64mm f/4 R LM WR, sebuah kamera medium format 51,4MB milik Ivansyah. Biasanya saya memakai Fujifilm X100F yang kecil dan ringan. Terasa berbeda sekali soal berat kamera ini. Saya harus memegang kamera dengan benar dan steady agar gambar tidak blur. Pemotretan dilakukan di rumah sahabat saya tersebut, yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Saya membawa peralatan yang lumayan lengkap sebetulnya, background stand, kain background, light stand dan monoblok Godox AD600 dan AD200 pinjaman serta wireless trigger. Padahal di rumah Ivansyah sendiri semua sudah ada kecuali background stand.

Pemotretan mulai jam 5 sore hingga jam 9 malam dan menghasilkan 130 frame yang kemudian dipilih beberapa buah yang bagus-bagus. Memang biasanya untuk satu pose harus diambil beberapa kali untuk mendapatkan gaya dan ekspresi yang pas. Untuk mensetup background stand dan lighting, saya hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Bagaimana dengan settingan kamera? Ah, tidak terlalu susah karena saya sudah terbiasa menggunakan kamera Fujifilm sejak beberapa tahun yang lalu.

Saya sengaja memotret dalam format Uncompressed RAW saja untuk bisa mengetahui seberapa besar filenya dan apakah komputer saya mampu mengolah di post processing. Ternyata setiap foto menghasilkan rata2 112 MB, yang membuat komputer saya menjadi lemot ketika mengimportnya ke Adobe Lightroom. Padahal spesifikasi komputer saya lumayan mumpuni untuk melakukan editing seperti yang sudah-sudah. Ketika mengirim file tersebut ke Adobe Photoshop untuk sedikit retouching, ketika filenya diubah menjadi berformat TIFF, besaran filenya membengkak luar biasa.

Dari hasil pemotretan ini yang pasti kalau soal kamera sudah tidak diragukan lagi. Dengan ketajaman luar biasa dan tonenya yang sudah keren banget, saya hanya membutuhkan sedikit retouch saja. Beberapa foto yang ada color castnya dan hanya bisa saya hilangkan di Adobe Photoshop. Jika dalam postingan ini foto-fotonya agak berkurang ketajamannya itu semata-mata karena filenya dikompres kembali oleh sistem.

Mau bikin foto yang ciamik juga? Call me!