Memotret Super Macro Pakai Kamera Fujifilm X100F? Kenapa Tidak

Macro photography adalah salah satu genre fotografi yang banyak penggemarnya. Pada mulanya aku tidak begitu tertarik memotret macro ini, yang notabene memotret benda-benda kecil dengan pembesaran. Setelah ikutan di acara hunting bareng komunitas macropun aku belum terlalu suka. Sampai suatu saat seorang teman pehobi fotografer mengajakku untuk ikut hunting bersama dedengkot macro fotografi Indonesia di daerah Bekasi sana. Bahkan aku sampai dipinjamkan kamera canggih Canon 6D berikut lensa macronya. Sebenarnya aku punya kamera sendiri, Fujifilm X100F yang simpel, ringan dan lumayan canggih.



Telamonia Dimidiata

Karena aku tidak mungkin meminjam kamera temanku terus-terusan, walau temanku memiliki 4 kamera dengan lensa yang sangat lengkap, aku berusaha untuk memaksimalkan kamera sendiri untuk memotret macro. Di samping itu, untuk membeli kamera yang lebih canggih berikut lensa khusus aku juga belum sanggup. Secara teori aku mengerti cara memotret apapun genrenya, tetapi tidak ada salahnnya untuk belajar kepada fotografer macro berpengalaman. Secara teknis tentu yang sudah berpengalaman jauh lebih mengerti seluk beluknya. Teori harus dipadukan dengan pengalaman dan latihan yang cukup agar foto yang dihasilkan sesuai dengan kaidah fotografi.

Grasshopper

Apa itu Super Macro atau dikenal juga dengan istilah Extreme Macro? Tidak ada definisi yang baku hingga saat ini, namun dari berbagai literatur disimpulkan artinya adalah foto macro dengan pembesaran minimal 1:1 pada obyeknya. Dengan kata lain besar obyek minimal sama besar dengan yang terekam oleh sensor kamera. Tujuannya adalah untuk merekam obyek secara detail. Ini mungkin terlalu teknis, aku akan coba membahasnya dipostingan berikutnya.

PERALATAN:
Agar dapat memperpendek jarak focus aku membeli macro coverter murah ini seharga Rp.100.000,- di salah satu toko online. Converter ini dijual dalam keadaan bekas, harga barunya juga tidak terlalu mahal. Mungkin sekitar Rp.600.000,- dan gampang dicari.

Macro Convertion

Beberapa waktu yang lalu aku memenangkan sebuah kontes foto di Coinaphoto dan hadiahnya sebagai juara pertama adalah speedlight ini, yang ternyata akhirnya berguna juga.

Speedlight Godox TT350

Cahaya lampu flash harus dibuat sehalus mungkin, jadi aku gunakan saja bekas kotak selai srikaya yang menganggur. Aku lubangi di tengahnya agar diffuser godox orisinil jenis omni bisa masuk.

Kotak Selai

Inilah penampakan keseluruhan perangkat tambahan yang tidak mahal itu.

Fiujifilm X100F dengan Perlengkapan Macro

SETTINGAN KAMERA:
Kamera aku setting secara manual dengan ISO 200, F16, SS125s dan Flash TTL. Berdasarkan teori, memotret macro ini disarankan memakai F16 agar tidak kesulitan memfokus karena DOF yang terlalu tipis. Memfokus obyek ini adalah salah satu tantangan di genre macro, karena kalau meleset, maka titik fokus akan meleset dan hasilnya tidak tajam. Memfokus ini perlu latihan yang rutin agar mahir. Selain fokus, yang perlu diperlukan adalah pengaturan cahaya lampu. Buatku masalah ini tidak terlalu sulit karena sudah berpengalaman dalam lighting.

HASIL FOTO:
Bagaimana dengan hasilnya? Sejauh ini aku cukup puas walaupun belum sempurna. Seringkali foto yang dihasilkan tidak setajam yang diinginkan. Memang untuk membuat foto macro tajam ada beberapa syarat selain peralatan, terutama lensa yang mumpuni, juga teknik focus stacking. Teknik ini belum sempat kucoba, mungkin lain kali.



Jumping Spider
Mantis
Capung

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.